Teeet…teeet… teeet…
Bel
sudah berbunyi ketika aku masih berusaha mengambil buku PR-ku yang dipinjam
oleh sahabatku, Maulfi.
“Ul,
cepetan nyalinnya!!! Udah masuk nih!!” kataku sambil mengguncang-guncang pundak
Maulfi.
“Iya
iya, bentar lagi.” Jawabnya.
Suasana
hening sejenak sampai ketika temanku –AP-- masuk ke kelas dan menghampiri meja
Maulfi.
“Ul,
gue lupa ngerjain PR! Gimana nih?” Tanya AP panik.
“Gue
juga belum. Tapi ini gue lagi nyalin ke Atmi. Udaah, nyalin dari punyanya Atmi
aja! Dijamin bener semua kok.” Ucap Maulfi tenang.
“Mi,
gue boleh liat PR lo, kan?” Tanya AP.
Aku
terpaku ditempatku berpijak. “Subhanallah…
AP imut banget kalo diliat dari dekat!” kataku dalam hati.
“Mi…
gue boleh liat PR lo, kan?” tanyanya lagi.
“Eh?!
i… iya… boleh kok! Tap… tapi… jangan lama-lama ya, kayaknya Bu Lina udah mau
datang deh!” ucapku gugup. Duh, gue kok
jadi salting gini sih?
“Oke!”
♥♥♥
Semenjak
saat itu, aku menjadi lebih dekat dengan AP. Hampir setiap malam kami selalu
sms-an. Entah mengapa setiap aku main dengannya atau menerima sms darinya, aku
merasakan getaran yang hebat didadaku! Apa mungkin aku suka padanya? Entahlah!
♥♥♥
Tak
terasa UAS Semester Ganjil telah dimulai. Setiap pagi sebelum ulangan dimulai,
aku, AP, Maulfi dan Rian menyempatkan diri untuk mengulang kembalipelajaran
yang akan diuji.
Disebuah
pagi, saat UAS hari terakhir tiba, Maulfi dan Rian mengintrogasiku.
“Mi,
kenapa sih lo kayaknya ngacangin gue?” Tanya Maulfi.
“Iyanya,
Mi! terus akhir-akhir ini lo lebih sok care sama si AP!” timpal Rian.
“Oh
ya? Perasaan engga deh!” selaku.
“Alaaaahhhh…
kalo kita bertiga manggil lo diwaktu yang bersamaan, pasti lo bakal nanggepin
AP duluan. Bahkan lo ngacangin gue ama Rian!”
Aku
hanya terdiam. Aku bingung harus berkata apa lagi.
“Jangan-jangan…
lo suka ya sama AP?” tebak Rian.
Aku
terkesiap ditempatku,”Hah? Apa?! Ada-ada aja lo tuh, Yan! Udah yuk, lanjutin
lagi belajarnya.”
“Biasanya,
kalo orang yang ngalihin pembicaraan itu, berarti dia suka beneran dong!” goda
Maulfi.
Aku
pun hanya cemberut menanggapinya.
♥♥♥
“Mi, lg apa? Mau bantu gue ga?
Bls”
“Insya Allah. Bantu apa emg?”
Tak lama kemudian, Annis pun
menelepon aku. Dalam percakapan tersebut, Annis memintaku untuk menyampaikan
perasaannya ke AP. Aku ingin menolak permintaan itu, namun aku tak enak hati
menolaknya. Jadinya, aku menolongnya dan langsung mengirim sms ke AP.
Setelah
kurang lebih 30 menit sms-an dengan AP, aku mengambil kesimpulan bahwa AP
menolak cinta Annis karena dia mencintai orang lain. Detik itu aku merasa
bahagia. Namun lama kelamaan ada rasa penasaran yang menggelayuti hatiku.
Kira-kira, siapa ya orang yang disukai AP itu?
♥♥♥
Hari
demi hari terlewati. Waktu itu aku sudah duduk dikelas Sembilan. Namun aku
tidak lagi sekelas dengan AP, Maulfi, maupun Rian. Tapi aku masih satu tempat
bimbel dengan Maulfi.
Suatu
sore ditempat bimbel, aku mengobrol dengan Maulfi saat istirahat.
“Mi,
lo udah dapet PJ belum?” Tanya Maulfi.
“PJ?
Siapa yang jadian, Pi? Elo?”
“Bukan
gue! Tapi AP.”
“Hah?!
AP jadian? Sama siapa?” tanyaku kaget.
“Sama
Ummi. Emang lo gatau tah kalo akhir-akhir ini si AP deketin Ummi?”
“Ehm…
ngga tau, Pi. Yaudah deh, bilangin semoga langgeng ya buat AP! Oh, iya, gue mau
kekelas duluan ya! See you.” Kataku sambil beranjak pergi.
♥♥♥
Sejak
saat itu, aku mencoba untuk berhenti mengagumi AP. Aku berharap semoga AP bisa
bahagia bersama Ummi, yah walaupun bukan aku yang disukai AP. LONGLAST YA AP!
:*