Jumat, 13 September 2013

ini tentang AP

Teeet…teeet… teeet…
            Bel sudah berbunyi ketika aku masih berusaha mengambil buku PR-ku yang dipinjam oleh sahabatku, Maulfi.
            “Ul, cepetan nyalinnya!!! Udah masuk nih!!” kataku sambil mengguncang-guncang pundak Maulfi.
            “Iya iya, bentar lagi.” Jawabnya.
            Suasana hening sejenak sampai ketika temanku –AP-- masuk ke kelas dan menghampiri meja Maulfi.
            “Ul, gue lupa ngerjain PR! Gimana nih?” Tanya AP panik.
            “Gue juga belum. Tapi ini gue lagi nyalin ke Atmi. Udaah, nyalin dari punyanya Atmi aja! Dijamin bener semua kok.” Ucap Maulfi tenang.
            “Mi, gue boleh liat PR lo, kan?” Tanya AP.
            Aku terpaku ditempatku berpijak. “Subhanallah… AP imut banget kalo diliat dari dekat!” kataku dalam hati.
            “Mi… gue boleh liat PR lo, kan?” tanyanya lagi.
            “Eh?! i… iya… boleh kok! Tap… tapi… jangan lama-lama ya, kayaknya Bu Lina udah mau datang deh!” ucapku gugup. Duh, gue kok jadi salting gini sih?
            “Oke!”
♥♥♥
            Semenjak saat itu, aku menjadi lebih dekat dengan AP. Hampir setiap malam kami selalu sms-an. Entah mengapa setiap aku main dengannya atau menerima sms darinya, aku merasakan getaran yang hebat didadaku! Apa mungkin aku suka padanya? Entahlah!
♥♥♥
            Tak terasa UAS Semester Ganjil telah dimulai. Setiap pagi sebelum ulangan dimulai, aku, AP, Maulfi dan Rian menyempatkan diri untuk mengulang kembalipelajaran yang akan diuji.
            Disebuah pagi, saat UAS hari terakhir tiba, Maulfi dan Rian mengintrogasiku.
            “Mi, kenapa sih lo kayaknya ngacangin gue?” Tanya Maulfi.
            “Iyanya, Mi! terus akhir-akhir ini lo lebih sok care sama si AP!” timpal Rian.
            “Oh ya? Perasaan engga deh!” selaku.
            “Alaaaahhhh… kalo kita bertiga manggil lo diwaktu yang bersamaan, pasti lo bakal nanggepin AP duluan. Bahkan lo ngacangin gue ama Rian!”
            Aku hanya terdiam. Aku bingung harus berkata apa lagi.
            “Jangan-jangan… lo suka ya sama AP?” tebak Rian.
            Aku terkesiap ditempatku,”Hah? Apa?! Ada-ada aja lo tuh, Yan! Udah yuk, lanjutin lagi belajarnya.”
            “Biasanya, kalo orang yang ngalihin pembicaraan itu, berarti dia suka beneran dong!” goda Maulfi.
            Aku pun hanya cemberut menanggapinya.
♥♥♥
            UAS Semester Ganjil pun sudah berakhir. Suatu sore, handphone-ku bergetar. Rupanya Annis --orang yang menyukai AP-- mengirimiku pesan.
“Mi, lg apa? Mau bantu gue ga? Bls”
            Aku pun langsung menjawab:
“Insya Allah. Bantu apa emg?”
          Tak lama kemudian, Annis pun menelepon aku. Dalam percakapan tersebut, Annis memintaku untuk menyampaikan perasaannya ke AP. Aku ingin menolak permintaan itu, namun aku tak enak hati menolaknya. Jadinya, aku menolongnya dan langsung mengirim sms ke AP.
            Setelah kurang lebih 30 menit sms-an dengan AP, aku mengambil kesimpulan bahwa AP menolak cinta Annis karena dia mencintai orang lain. Detik itu aku merasa bahagia. Namun lama kelamaan ada rasa penasaran yang menggelayuti hatiku. Kira-kira, siapa ya orang yang disukai AP itu?
♥♥♥
            Hari demi hari terlewati. Waktu itu aku sudah duduk dikelas Sembilan. Namun aku tidak lagi sekelas dengan AP, Maulfi, maupun Rian. Tapi aku masih satu tempat bimbel dengan Maulfi.
            Suatu sore ditempat bimbel, aku mengobrol dengan Maulfi saat istirahat.
            “Mi, lo udah dapet PJ belum?” Tanya Maulfi.
            “PJ? Siapa yang jadian, Pi? Elo?”
            “Bukan gue! Tapi AP.”
            “Hah?! AP jadian? Sama siapa?” tanyaku kaget.
            “Sama Ummi. Emang lo gatau tah kalo akhir-akhir ini si AP deketin Ummi?”
            “Ehm… ngga tau, Pi. Yaudah deh, bilangin semoga langgeng ya buat AP! Oh, iya, gue mau kekelas duluan ya! See you.” Kataku sambil beranjak pergi.
♥♥♥

            Sejak saat itu, aku mencoba untuk berhenti mengagumi AP. Aku berharap semoga AP bisa bahagia bersama Ummi, yah walaupun bukan aku yang disukai AP. LONGLAST YA AP! :*

Tidak ada komentar:

Posting Komentar